Layanan:

Perusahaan Pakai AI: Banyak Menyesal dan Rekrut Karyawan Lagi?

Perusahaan Pakai AI: Banyak Menyesal dan Rekrut Karyawan Lagi?

Sejumlah perusahaan pakai AI untuk memangkas biaya tenaga kerja, lalu menemukan operasional terganggu. Sebagian mengembalikan manusia, menambah pengawasan manusia, atau melakukan reskilling.

Fenomena ini bukan berarti AI tidak berguna. Riset Forrester (2026) dan Orgvue (2025) justru menunjukkan masalahnya ada pada keputusan PHK prematur dan pemetaan pekerjaan yang keliru.

Namun media sering sederhanakan headline “menyesal”. Yang terjadi di lapangan lebih rumit: perusahaan tetap menginvestasikan AI, tetapi menyesuaikan proporsi manusia versus otomatisasi setelah kualitas layanan, kepatuhan, atau pengetahuan institusional terasa jebol.

Highlight

Banyak Perusahaan Menyesal Pakai AI, Kini Rekrut Manusia Lagi

  • Forrester (13 Januari 2026) memprediksi lebih dari separuh PHK yang dikaitkan AI akan dibalik secara diam-diam—bukan karena AI ditinggalkan, melainkan penggantian manusia terlalu cepat.
  • Orgvue (29 April 2025): 39% pemimpin bisnis survei melakukan redundansi akibat AI; dari kelompok itu, 55% mengakui keputusan PHK keliru.
  • Klarna (2024–2025) memangkas headcount sambil meluncurkan asisten AI, lalu menambah peran manusia untuk kasus kompleks—CEO menegaskan strategi AI-first tetap jalan.
  • Membantu pekerjaan, mengotomatisasi tugas, dan mengganti seluruh posisi adalah tiga hal berbeda—banyak kegagalan muncul saat ketiganya tercampur.
  • 80% pemimpin bisnis dalam survei Orgvue berencana reskilling agar karyawan bisa bekerja bersama AI.

Fenomena Perusahaan Pakai AI dan Rekrut Ulang

perusahaan pakai AI dan rekrut karyawan lagi setelah PHK otomatisasi
perusahaan pakai AI dan rekrut karyawan lagi setelah PHK otomatisasi

Di rentang 2024–2026, narasi “AI menggantikan manusia” kerap muncul bersama gelombang efisiensi. Lalu muncul koreksi: rehiring selektif, model hybrid manusia-AI, atau penambahan human oversight pada proses yang sempat otomatis penuh.

Sebab itu, artikel ini membedakan tiga lapisan bukti. Pertama, fakta nyata—PHK, deploy AI, atau hire ulang (contoh: Klarna). Kedua, prediksi lembaga riset seperti Forrester. Ketiga, interpretasi media atau praktisi—jangan samakan dengan data survei.

Bacaan awal yang sehat: AI tetap memberi manfaat produktivitas. Namun bila perusahaan pakai AI sambil menganggap seluruh fungsi bisa alihkan tanpa pemetaan tugas, governance, dan pelatihan, biaya koreksinya kerap mahal.

Data Forrester: Prediksi PHK dan Pembalikan Diam-diam

grafik prediksi Forrester dampak perusahaan pakai AI pada pekerjaan
grafik prediksi Forrester dampak perusahaan pakai AI pada pekerjaan

Forrester merilis rilis pers pada 13 Januari 2026 (lihat rilis resmi Forrester). Lembaga riset itu memperkirakan otomatisasi dan AI memberi dampak nyata, tetapi moderat, hingga 2030.

Anda perlu baca tren ini bersama fenomena perusahaan pakai AI lalu mem-PHK. Forrester melihat risiko over-automation akibat hype, bukan kegagalan teknologi.

Angka kunci dari rilis resmi tersebut:

  • AI dapat menyumbang sekitar 6% dari total kehilangan pekerjaan AS hingga 2030 (setara 10,4 juta peran).
  • Proyeksi Forrester: AI akan mengaugmentasi sekitar 20% pekerjaan dalam lima tahun ke depan—not menggantikan seluruh peran sekaligus.
  • Lembaga itu memprediksi perusahaan akan menarik kembali lebih dari separuh PHK berlabel AI secara diam-diam setelah merasakan kesulitan operasional pasc mengganti manusia terlalu cepat.

Forrester juga memperingatkan fenomena AI washing: board memangkas headcount karena tekanan finansial, lalu board menempelkan label “AI-driven” padahal aplikasi AI matang belum siap mengisi peran yang ditinggalkan.

“We may not be heading for an imminent AI job apocalypse, but how organizations handle AI today will define more than just their future success.”

— J. P. Gownder, vice president and principal analyst, Forrester (13 Januari 2026)

Gownder menekankan AI sebagai alat peningkatan talenta manusia, bukan pengganti absolut—sejalan dengan rekomendasi investasi upskilling dan governance.

Survei Orgvue: PHK Keliru Setelah Perusahaan Pakai AI

Orgvue, platform perencanaan desain organisasi, merilis temuan survei internasional pada 29 April 2025. Sumber primer: 55% of businesses admit wrong decisions in making employees redundant when bringing AI into the workforce. Survei ini relevan karena banyak responden justru perusahaan pakai AI sambil mem-PHK tanpa peta pekerjaan jelas.

Presisi angka—media kerap salah artikan di headline:

Temuan Orgvue (2025) Artinya Bukan berarti
39% pemimpin bisnis melakukan redundansi akibat deploy AI Hampir empat dari sepuluh responden survei PHK terkait AI 39% seluruh perusahaan di dunia PHK karena AI
55% dari kelompok 39% tadi mengakui PHK keliru Mayoritas yang PHK-akibat-AI menilai keputusannya salah 55% semua perusahaan menyesal pakai AI
80% berencana reskilling karyawan untuk AI Fokus bergeser ke kolaborasi manusia-mesin Perusahaan berhenti investasi AI

Survei Orgvue–Vitreous World (Februari–Maret 2025) melibatkan 1.163 pemimpin C-suite dan senior di organisasi menengah-besar di AS, Kanada, UK, Irlandia, Australia, Hong Kong, Malaysia, dan Singapura.

“While 2024 was the year of investment and optimism, businesses are learning the hard way that replacing people with AI without fully understanding the impact on their workforce can go badly wrong.”

— Oliver Shaw, CEO Orgvue (29 April 2025)

Shaw menambahkan keterbatasan keahlian AI (35% responden) dan ketidakjelasan peran mana yang paling gain versus paling rentan otomatisasi sebagai hambatan deploy.

Klarna: Kasus Perusahaan Pakai AI dan Model Hybrid

contoh layanan pelanggan hybrid saat perusahaan pakai AI dan manusia
contoh layanan pelanggan hybrid saat perusahaan pakai AI dan manusia

Media global kerap rujuk Klarna sebagai contoh nyata—nuansanya perlu Anda baca sendiri.

Pada 2024, fintech Swedia meluncurkan asisten layanan pelanggan berbasis AI. Asisten itu memproses jutaan percakapan sambil headcount turun lewat attrition dan efisiensi.

Di 2025, CEO Sebastian Siemiatkowski membuka kembali rekrutmen peran manusia untuk tier layanan premium dan kasus kompleks.

TechCrunch melaporkan pernyataan Siemiatkowski di London SXSW (4 Juni 2025) setelah headline “Klarna hire humans again” ramai:

“Two things can be true at the same time.”

— Sebastian Siemiatkowski, CEO Klarna, via TechCrunch (4 Juni 2025)

Beliau menjelaskan AI tetap menangani volume rutin, sementara Klarna memosisikan layanan manusia sebagai opsi VIP—analogi “pakaian jahit tangan versus mesin”. Menurut Silicon Republic, juru bicara Klarna menegaskan pilot rekrutmen part-time bukan reversal strategi AI-first; perusahaan tetap menjanjikan jalur jelas ke agen live untuk isu bernuansa.

Interpretasi media “Klarna menyesal total” melampaui bukti. Yang terbukti: rebalancing—AI di tier volume, manusia di tier kompleks/emosional—setelah kualitas layanan turun ketika cost jadi faktor dominan organisasi outsourcing.

Beda AI Membantu, Mengotomatisasi Tugas, dan Mengganti Posisi

Kebingungan publik sering muncul karena tiga level adop AI tercampur:

  1. Bantuan (level 1): draft, riset, routing tiket; manusia tetap accountable.
  2. Otomatisasi partial (level 2): bagian workflow repetitif; posisi masih ada, isi harian berubah.
  3. Pengganti posisi (level 3): seluruh fungsi alihkan ke mesin; risiko tertinggi bila tanpa pilot dan fallback manusia.

Pola inilah yang kerap membuat perusahaan pakai AI lalu menyesal: mereka menarget level ketiga padahal pekerjaan hanya butuh level pertama atau kedua.

Forrester menekankan tekanan disproportionate pada peran junior, developer perangkat lunak, dan customer service. Namun augmentasi 20% pekerjaan menunjukkan arah dominan adalah kolaborasi, bukan penghapusan massal.

Menurut Supply Chain Management Review, DHL Supply Chain justru menekankan filosofi human-in-the-loop sambil mengembangkan agentic AI—otomatisasi untuk monitoring dan analisis, manusia untuk exception dan accountability. Itu contoh interpretasi strategi: AI scale tanpa mem-PHK massal lalu hire ulang.

AI Washing dan PHK Motivasi Finansial

Lantaran tekanan margin, sejumlah board memakai narasi AI untuk membenarkan pemangkasan headcount. Forrester menyebut tren ini AI washing: board kemas cut finansial sebagai transformasi AI padahal stack belum siap.

Ketika perusahaan pakai AI hanya sebagai label PHK, kepercayaan karyawan dan publik ikut erosi—meski investasi AI sebenarnya tetap berjalan.

Orgvue melaporkan 48% pemimpin (2025) khawatir AI menggantikan orang—turun dari 54% (2024)—sementara 47% justru takut karyawan memakai AI tanpa kontrol. Ketegangan ini mendorong kebijakan internal (51% responden) dan kenaikan budget L&D (41%).

Bagi pekerja Indonesia—termasuk freelancer yang mendukung transformasi digital klien—sinyalnya jelas: permintaan akan orang yang paham AI dan domain bisnis naik, bukan hilang total. Roadmap digital perusahaan perlu ruang upskilling; lihat juga blueprint roadmap pengembangan website saat organisasi memperluas kanal digital.

Mitos dan Fakta: Perusahaan Pakai AI

Sebelum masuk tabel, ingat: narasi viral kerap loncat dari survei ke generalisasi. Berikut koreksi berbasis sumber primer.

Mitos Fakta (sumber)
Semua perusahaan menyesal dan berhenti pakai AI Orgvue: investasi AI di 2025 diproyeksikan tetap naik; 76% yakin org akan memanfaatkan AI penuh akhir 2025
55% perusahaan di dunia mengakui PHK AI keliru 55% = subset dari 39% responden yang PHK akibat AI (Orgvue, April 2025)
AI pasti menghapus hampir semua pekerjaan Forrester: augmentasi 20% pekerjaan; 6% job losses terkait automasi/AI AS hingga 2030—bukan apocalypse
Rehire = AI gagal Klarna: AI-first tetap; manusia untuk tier VIP/kompleks (pernyataan resmi via media, 2025)
PHK AI selalu karena teknologi sudah siap Forrester: AI washing—cut finansial dilabeli AI padahal aplikasi belum mature

Strategi Realistis: Manusia Bekerja dengan AI

Arah yang lebih realistis bukan AI versus manusia, melainkan manusia yang bekerja menggunakan AI. Orgvue mencatat 80% pemimpin merencanakan reskilling; Forrester menekankan ukuran readiness karyawan (technology change quotient, AI quotient).

Langkah untuk Pemimpin Organisasi

Sebelum PHK, pemimpin perlu tanya: apakah posisi ini benar-benar bisa alihkan ke AI, atau hanya sebagian tugasnya? Jawaban itu membedakan perusahaan pakai AI secara sehat versus sekadar mengejar headline efisiensi.

  1. Peta tugas, bukan hanya jabatan. Tentukan mana yang augmentasi, otomatisasi partial, atau benar-benar eligible full automation—dengan pilot terbatas.
  2. Sediakan fallback manusia. Customer-facing dan decision-critical butuh eskalasi live agent atau reviewer.
  3. Investasi reskilling sebelum PHK. Orgvue menunjukkan penyesalan muncul ketika cut precedes pemahaman dampak workforce.
  4. Transparansi internal. Kebijakan AI (51% Orgvue) mengurangi shadow AI yang dikhawatirkan 47% pemimpin.

Langkah untuk Pekerja dan Freelancer

Kemampuan kolaborasi dengan AI—prompting, verifikasi output, workflow automation—menjadi diferensiator. Bagi penyedia jasa digital, portofolio yang menampilkan proyek website atau kanal korporat yang rapi ikut membangun kepercayaan klien yang sedang transformasi; referensi jasa website WordPress untuk bisnis kerap dipakai UMKM yang ingin tampil profesional saat adopt tool AI internal.

Tim CodeF melihat klien korporat kecil kerap menunda governance AI karena fondasi digital—company profile, dokumentasi proses, kanal komunikasi—belum siap. Website company profile yang terstruktur jadi titik awal kredibilitas sebelum chatbot atau otomatisasi layanan hadir ke publik. Pengalaman Web developer CodeF menunjukkan transformasi workforce dan transformasi kanal digital berjalan paralel—bukan saling menggantikan.

Elemen kepercayaan digital—seperti dalam pembahasan fitur website profesional untuk kredibilitas—tetap relevan meski AI menangani bagian operasional: manusia masih menanggung reputasi akhir.

Prediksi Forrester soal pembalikan PHK diam-diam bukan ajakan menakuti AI—melainkan peringatan agar perusahaan pakai AI dengan peta pekerjaan, bukan slogan efisiensi semata. Namun manfaat AI tetap besar; yang kerap keliru adalah asumsi manusia bisa hilangkan sekaligus tanpa reskilling, oversight, dan strategi organisasi yang matang.

Copyright © 2026 CodeF Web Developer. All rights reserved colaborated with Pajuda.com